Solusi Gempur Kanker Kronis
Di Papua, rebusan umbi tumbuhan sarang semut (Mycomerdia tuberosa)
dipercaya ampuh mengobati berbagai penyakit. Diantaranya sakit nyeri, kanker,
peningkat imunitas tubuh dan penambah energi. Para peneliti di Fakultas Farmasi
Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta berhasil membuktikan salah satu data
empiris itu secara ilmiah. Guru besar Farmasi UGM Prof. Dr. Ediati, SE, Apt
menjelaskan, umbi sarang semut berfungsi sebagai imunostimulator. Yaitu
peningkat respon imun.
Oleh karena itu, ekstrak tumbuhan itu baik diminum saat sakit atau sesudah
sakit. “Jika diminum saat sehat, mungkin tidak banyak pengaruhnya. Tetapi, saat
sakit, ekstrak ini berguna untuk melawan penyakit. Dalam keadaan sakit, sistem
inun biasanya terganggu,” Jelas Ediati.
Tingkatkan Imunitas
Dosen farmasi UGM itu bersama timnya melakukan beberapa penelitian untuk
mengevaluasi efek tumbuhan sarang semut sebagai peningkat imunitas tubuh secara
in vitro terhadap sel makrofag dan proliferasi sel limfosit pada
2010-2011. Kemudian, dilanjutkan secara in vivo terhadap hewan uji
(tikus jantan galur Sprague Dawley) yang dipejani doxorubisin (agen kemoterapi
yang dapat menyebabkan penurunan imunitas). “Ekstrak etanolik terpurifikasi
umbi sarang semut mempunyai efek imunostimulator yang poten, baik secara in
vitro maupun in vivo sehingga dapat dikembangkan sebagai sediaan
fitofarmaka,” terangnya.
Menurut Ediati, berdasarkan penelitian sebelumnya, penggunaan tumbuhan ini
meluas. Selain sebagai herba alternatif bagi penyakit kronis seperti kanker dan
tuberkulosis, bisa pula berperan sebagai suplemen kesehatan. Cocok dikonsumsi
untuk ibu sehabis melahirkan dan ketika menyusui. Hal itu mendukung kemungkinan
mekanisme penyembuhan oleh tumbuhan ini melalui efek imunomodulator.
Penelitian lain yang sudah dilakukan juga menunjukkan bahwa M. pendens dan
M. tuberosa memiliki aktivitas meningkatkan proliferasi limfosit dan
fagositosis makrofag secara in vitro. Untuk mengetahui nilai keamanan
dan umbi sarang semut itu, Ediati melakukan evaluai toksisitas kronik.
Hasilnya? Tanaman ini aman untuk dikonsumsi dan tidak toksis. Dosis yang
paling baik untuk mengonsumsi sarang semut adalah 400 miligram ekstrak/minum.
“Tetapi, jika berlebihan mungkin tetap ada efek sampingnya,” sambung Ediati.
Seekdar informasi, tumbuhan sarang semut mengandung glikosida, viatmin,
mineral, flavonoid, tokoferol, polifenol, dan tannin. Dalam sejumlah literatur
disebutkan, senyawa-senyawa tersebut adalah antioksidan kuat.
Perlu Anda ketahui, sebenarnya Myrmecodia tuberosa adalah tumbuhan
epifit yang tergolong ke dalam famili Rubiaceae. Genus Myrmecodia
sendiri terdiri dari 26 spesies. Sedangkan, M. tuberosa memiliki 16 sub
spesies atau varietas. Semut yang
menghuni Myrmecodia adalah jenis Ochetellus sp. Kendati terdapat 8.800
jenis semut, setiap sarang hanya dihuni satu jenis saja.
Umbinya pertama kali dipublikasikan pada tahun 1823. Umbinya bisa mencapai
25 meter dengan tinggi mencapai 45 cm. tumbuhan itu hidup nyaman pada kondisi
kelembapan tinggi dengan intensitas cahaya rendah.
Mutualisme
Umbi sarang semut memiliki duri tajam. Di dalamnya terdapat labirin-labirin
yang disukai semut. Di papua, sarang semut tumbuh pada ketinggian 1100-2500
meter di atas permukaan laut (dpl). Sarang semut banyak ditemukan menempel di
beberapa pohon. Seperti pohon kayu putih (Melaleuca sp), cemara gunung (Casuarina
sp), kaha (Castanopis), dan pohon beach (Nothofagus).
Kestabilan suhu membuat semut-semut betah tinggal di dalamnya. Hubungan
antara sarang semut dan semut penghuninya adalah simbiosis mutualisme alias
saling menguntungkan. Myrmecodia menyediakan lorong-lorong labirin dalam
umbinya untuk sarang semut dan senyawa aktif yang menjadi sumber makanan semut.
Sedangkan semut memberikan perlindungan terhadap ancaman herbivora seperti ulat
dan menyediakan pupuk organik bagi tanaman dalam bentuk limbah.
Kendati pun banyak digunakan sebagai obat tradisiona, kata Ediati, belum
banyak penelitian secara ilmiah terhadap sarang semut ini. Penelitian yang
dilakukan Ediati menarik perhatian salah satu produsen obat untuk memproduksi
herbal ini secara massal. Akan tetapi, karena tumbuhan ini berasal dari Papua,
ongkos produksi, terutama biaya pengiriman bahan mentah, masih harus
dipertimbangkan.
Dari 14,8 kilogram umbi sarang semut, hanya didapat 0,85 kilogram ekstrak.
“Setelah diekstrak memang hanya sedikit yang bisa dihasilkan,” katanya. Ke
depan, kata Ediati, dia berencana untuk melakukan penelitian lanjutan terhadap
sarang semut. Terutama, karena umbi tersebut berpotensi sebagai obat kanker dan
berbagai penyakit lainnya.
Sumber. (Teks:Khairina di
solo,Jawa tengah)
Baca juga :

Belum ada tanggapan untuk "Solusi Gempur Kanker Kronis."
Catat Ulasan